Bupati alias Buka Paha Tinggi-tinggi

3 12 2012

Ternyata singkatan itu,  beberapa kali ditulis di Blog ini, ada kandungan filosofisnya. Kalau tidak hati-hati ya bisa tergoda dengannya, bahkan bisa terjerumus ke perkawinan dengan modus operasi senyap alias diam-diam.  Menceraikannya pun juga sangat simple cukup dengan sistem online.   Beres!!! Welah kok enak banget.  Pemangku bupati omongannya mustinya lurus, konsisten, tidak mencla mencle. Inilah contoh salah tapi selalu mencoba menutupi kesalahannya.  Pembenarannya pun aneh, tak etis, menggelikan, tak masuk akal, tak logis, sok agamis,  sok tahu aturan tapi ndobos bos. Perkawinan kok dianalogikan dengan jual beli barang. Pokoknya sulit dinalar dari sudut pandang manapun. Tapi kok bisa terpilih jadi pemimpin ya?.

Aneh bin ajaib kok tidak malu ya dengan jawaban-jawaban yang dilontarkannya? kan itu membuka aib. Jangan-jangan pola semacam ini sudah sistemik di lingkungan orang yang punya kuasa dan  punya duit. Terus terang aku jadi bingung fenomena yang tak lazim ini mencuat dan menjadi perbicangan khalayak ramai. Ada pepatah Jawa yang dipelintir disini: “Sak bejo bejo ne wong kang paling bejo yoiku wong sing eling lan waspodo” dimaknai “Eling yen duwe bojo, waspodo yen bojone ngerti”.  Orang yang suka memelintir pepatah Jawa itu biasanya orang yang sering “ngaceng”.  Dalam bahasa Jawa kata “ngaceng” berarti “kaku” atau “berdiri” kalau melihat (bukan tanya)  rumput yang bergoyang.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: