Kentut dalam tinjauan

17 12 2008

Tak bisa dipungkiri bahwa aktivitas perkentutan dapat dilakukan oleh semua orang. Tak peduli rakyat, konglomerat maupun pejabat. Bisa kentut sungguh melegakan, menyehatkan dan “penyegar” bagi mereka yang terimbas olehnya. Di masyarakat bawah budaya perkentutan adalah sebagai bumbu selingan dalam mengakrabkankan berkomunikasi antar teman. Tak perlu tata krama atau sopan santun melakukannya. Ngobrol tanpa kentut terasa hambar. Lebih-lebih bisa nyaring dan berbau, akan lebih bermakna. Mereka terbiasa kentut bukan tanpa sebab,

  • karena kurang pendidikan,
  • pola makan tak teratur dan kurang higienis sehingga isi perut banyak kuman dan tercipta rongga2 udara sehingga mereka gampang mules dan gampang melakukan kentut.

Lain halnya dengan pejabat atau konglomerat. Mereka masyarakat terdidik, pola makan yang teratur dan higienis sudah melekat padanya sehingga aktivitas perkentutan jarang dilakukan. Toh kalau memang harus perlu dilakukan mereka melakukannya dengan berhemat (keluar sedikit demi sedikit) dan malu-malu, atau sembunyi-sembunyi atau terang-terangan jika tak ada orang. Ini karena menyangkut kehormatan, tata krama dan sopan santun.

Meskipun kentut bisa merugikan pihak lain, untunglah kentut belum diatur dalam undang-undang sehingga masyarakat masih bebas melakukannya. Bisa kentut, siapa takut?


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: