Seperti motto olimpiade “Citius Altius Fortius.” yang kita kenal, yang bermakna “Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Kuat”. Semua peserta mengupayakan semangat itu maka kalau ada peserta yang neko-neko akan didiskualifisir seperti model bulutangkis gajah oleh PANWASOL (panitia pengawas olimpiade). Untunglah meskipun neko-neko itu juga terjadi di kompetisi pilgub dki ini.. tak ada yang sampai didiskualisir oleh PANWASLU.

photo by harianterbit.com
Nah dalam kompetisi pilgub dki ini kayaknya untuk Jokowi-Ahok (JKA) lebih pas kalau motto yang dipakai adalah “Aku datang, aku serang, aku menang”. Ini mungkin yang dimaksud oleh Jokowi sebagai kejutannya semut melawan gajah yang dimenangkan semut. Bagaimana tidak? datang dari daerah kecil, dikepung dan dikeroyok oleh gajah-gajah besar, di-underestimate-kan sebagai “kurang ahli masalah dki”, dizolimi (dikuyo-kuyo kanan kiri), intimidasi, isu sara, dll. tetapi dengan motto olimpiade “cepat” menarik simpati, semangat “tinggi” mendatangi lapisan bawah dan “kuat” menahan tohokan dari segala sisi. 2 (dua) putaranpun unggul tak tersaingi.
Nah, kenapa bisa itu terjadi?
a. JKA pasti tahu kalau semut melawan gajah yang menang pasti semut. Sebab gajah bisa kesemutan, semut tidak bisa kegajahan.

photo by chirpstory.com
2. Semut kalau berjalan selalu kompak… berbaris urut satu per satu tanpa ada yang menyalip. Rombongannya juga lebih banyak dibandingkan dengan gajah. Semut ada dimana-mana sementara gajah hanya di hutan, Kebun Binatang atau di sirkus yang berkumpul sama badut badut.
Jokowi diartikan dalam bahasa jawa “ojo koyo wingi” yang menandakan perubahan untuk sekarang. sementara kubu Foke apa boleh sudah diindentikan oleh peserta lain dengan kumis, “kumuh dan miskin” dan term ini sah-sah saja dipakai toh media dan pemerintahpun sering menyebut Raskin sebagai beras miskin. Anggota DPR bilang golongan sadikin – sakit sedikit miskin -. So apa yang salah mengistilahkan nama?
JKA mengatakan bahwa pilgub ini sebagai usaha yang teramat amat amat amat sulit tapi pasangan ini bisa membungkusnya dengan rapi. Publik melihatnya seperti santai tertawa-tawa tapi membumi. Penampilannya lugu dan sederhana jauh dari tebar pesona. Sementara lawannya kelihatan serius, tegang dan tidak membumi bahkan ada kesan melecehkan pasangannya …haiyaa.. ahok.

photo by solopos.com
Baju kotak-kotak vs Kumis. Nah ini sungguh luar biasa smart. Baju kotak-kotak.sebagai simbolnya JKA. Orang yang kebetulan memakai baju kotak2 yang tidak sama pun bisa saja dianggap simpatisannya. Serangan kalau kotak-kotak membuat masyarakat akan terkotak-kotak, justru dibalik oleh JKA masyarakat yang terkotak-kotak itu akan dirajut dan dipersatukan. Baju kotak-kotak bisa dipakai oleh siapapun lintas gender tapi kumis hanya orang-2 tertentu saja yang punya kesannya non gender, egois, individualistis.
Memang tidak bisa diperbandingkan antara Solo dan Dki apalagi dengan Bangka Belitung, DKI jelas lebih kompleks, lebih berat, lebih rumit pokoknya lebih.. Tapi apa boleh buat para pemilih dki adalah penentu. Mereka melihat kenyataan yang terjadi, jalanan macet sementara tiang pancang monorel untuk mengatasi kemacetan terbengkalai bak monumen. Pemilih tidak melihat alasannya kenapa? yang dikeluhkan adalah kemacetannya dan pemimpinnya. Nah JKA punya sederet prestasi yang sudah terbukti dan terpublikasi di mass media dan televisi meskipun belum tentu bisa berprestasi di dki tapi kan masyarakat dki di kepalanya sudah tergambar dengan prestasi jokowi dan bisa berharap dengan pasangan ini?
Inilah hebatnya Jokowi. Ia betul-betul hebat merangkul massa tua maupun muda. Bisa jadi menyebut hobinya musik cadas atau metal dipakai sebagai strategi menarik simpati kaum muda yang omzet pemilihnya banyak. Misal dengan menyebut dan memperlihatkan kaset metalica, ironmaden, led zeppelin. Menemui group band Slank Di lain pihak dia juga penggemar berat Bang Haji Rhoma Irama, dia bilang hapal semua lagu-lagu bang haji seperti darah muda, begadang. So, penggemar musik keras dan dang dut akan bersimpati dengannya. Sementara untuk Foke tak jelas hobi musik favoritnya apa lenong jakartakah, dang dutkah, musik cadaskah? I think kubu Foke kurang piawai soal kecil ini.
Foke ahli transportasi.kenyataannya kemacetan menjadi keluhan warga dki
Jokowi ahli komunikasi kenyataanmya memang bisa mensolusi problem sosial warga surakarta. So, siapa yang betul-betul ahli?
Majunya Jokowi ke DKI tak lepas dari peran dan dukungan JK. JK sendiri menyamakan sebutan namanya sama dengan Jokowi sama-sama JK. Tokoh Golkar ini suka atau tidak suka, senang atau tidak senang membuat simpatisan/kader Golkar atau penggemar JK bisa jadi banyak yang nyebrang ke Jokowi.
Dimanapun dan siapapun yang namanya pemegang kekuasaan atau incumbent akan selalu dikritisi oleh golongan menengah keatas. Yang paling bisa merasakan kemacetan di dki adalah mereka-mereka ini karena kesehariannya pakai roda dua atau roda empat
Anyway, itu analisis dari angle berbeda – non empirik dari Mati Ketawa ala Jogja. siapapun boleh setuju atau tidak setuju. boleh tertawa boleh cemberut, terserah anda semua. Sebagai penutup saya kutipkan kata-kata bijak mantan presenter yang saya lupa namanya:
“Adalah baik menjadi orang Penting tapi jauh lebih penting menjadi orang Baik”.
Mudah-mudahan Jokowi Ahok meskipun kini jadi orang penting tetap menjadi orang baik. SELAMAT
Recent Comments